ISLAMISASI DAN SILANG BUDAYA DI NUSANTARA

Selasa, 06 September 2016

ISLAMISASI DAN SILANG BUDAYA DI NUSANTARA



A.  Kedatangan Islam di Nusantara
Kedatangan Islam di Nusantara menimulkan banyak perdebatan mengenai bagaimana secara pasti ajaran Islam masuk ke Nusantara. Terdapat tiga teori yang bisa menjadi acuan mengenai kedatangan Islam di Nusantara.
1.    Teori Gujarat
Sarjana-sarjana Barat mengatakan bahwa Islam masuk berasal dari Gujarat, dan disebarkan oleh pedagang Gujarat yang telah memeluk Islam dan berdagang ke dunia Timur sekitar abad ke-13 M. Pendapat ini juga didukung oleh Moquetta yang berkesimpulan bahwa batu nisan Sultan Malik mirip dengan batu nisan yang terdapat di Kambay, Gujarat
2.    Teori Persia
Adalah pendapat dari Hoesein Djajadiningrat yang mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia berasal dari Persia. Hal ini didasari atas kesamaan tradisi antara masyarakat Persia dengan Indonesia, diantaranya Tradisi Tabot dan tradisi merayakan 10 Muharam.
3.    Teori Mekkah
A.H. Johns mengatakan bahwa Islam berasal dari tanah kelahirannya yaitu Mekkah dan proses Islamisasi dilakukan oleh para musafir yang datang ke Indonesia.
            Ketiga teori tersebut bisa saling melengkapi satu sama lain. Islamisasi di kepulauan Indonesia mengalami proses yang panjang dan bertahap dari satu daerah ke daerah lainnya. Salah satu tokoh yang paling disebut adalah Sunan Giri sebagai penyebar Islam di Kepulauan Indonesia bagian Timur, dan dijadikannya Ternate sebagai kekuatan Islam oleh rajanya, yaitu Sultan Zainal Abidin.
B.  Islam dan Jaringan Perdagangan Antarpulau
            Masyarakat Nusantara pada umumnya adalah masyarakat pesisir yang kehidupannya tergantung pada perdagangan antarpulau dan antarbenua. Kegiata perdagangan pun sudah dimulai sejak abad pertama Masehi. Berdasarkan berita-berita Cina dan Sejarah Indonesia yang telah dikaji, di Nusantara telah menunjukan adanya jaringan-jaringan perdagangan antara kerajaan Cina dengan kerajaan di Kepulauan Indonesia sampai abad ke-16 M. Sementara itu, kapal-kapal dagang dari Arab juga sudah mulai berlayar ke Asia Tenggara pada abad ke ke-7 M. Banyaknya jalur pelayaran mengakibatkan tumbuhnya kota-kota seperti Samudra Pasai, Malaka, Kutai, dll.
     Kemudian dari sumber literatur Cina, terdapat kerajaan bercorak Islam seperti Samudra Pasai dan Malaka yang tumbuh dan berkembang sejak abad ke-13 sampai abad ke-15 M. Selain itu terdapat juga komunitas-komunitas Muslim di pesisir utara Jawa bagian timur. Hubungan pelayaran dan perdagangan antara Kepulauan Indonesia dengan Arab semakin erat dengan semakin berkembangnya aktivitas pelayaran dan kota-kota. Walaupun pedagang Arab hanya transit di Indonesia dalam perjalanan ke Cina, tetapi hubungan antar kerajaan terjalin secara langsung. Hubungan ini menjadi semakin ramai menyusul pedagang Arab yang melarikan diri ke Raja Kedah dan Palembang usai koloni mereka dihancurkan oleh Huang Chou dan melarang pedagang Arab masuk Cina.
     Ditaklukkannya Malaka oleh Portugis pada 1511 M dan banyaknya ada perampok serta bajak laut mengakibatkan berubahnya jalur pelayaran menuju pesisir Sumatra dan Sunda, dan lahirlah pelabuhan perantara yang baru disana.
     Perdagangan di wilayah timur Indonesia lebih cenderung pada perdagan cengkih dan pala. Perdagangan cengkih berpusat di Tidore dan Ambon, sedangkan komoditi pala berpusat di Banda. Pada abad ke-15 M, Sulawesi Selatan telah didatangi pedagang Muslim dan dalam perjalanan sejarahnya, masyarakat Muslim menjalin hubungan dengan bangsa Portugis yang didorong oleh adanya usaha monopoli perdagangan rempah-rempah yang dilancarkan oleh kompeni Belanda di Maluku. Sementara itu, hubungan Ternate, Ambon, dan Jawa sangat erat sekali, ini ditandai dengan adanya seorang raja yang dianggap benar-benar Muslim yakni Zainal Abidin yang terkenal sebagai raja cengkih. Cengkih, pala, dan bunga pala hanya terdapat di Kepulauan Indonesia bagian Timur dan ditanam di perbukitan di pulau-pulau kecil Ternate, Tidore, Makian dan Motir. Selain itu, meningkatnya ekspor lada,  dan adanya perang di laut Eropa menambah berkembangnya pelayaran Islam di Samudra Hindia. Pada zaman pertumbuhan dan perkembangan Islam, sistem jual beli masih dilakukan dengan cara barter.
     Kemunduran perdagangan dan kerajaan yang berada di daerah tepi pantai disebabkan karena kemenangan militer dan ekonomi Belanda, dan munculnya kerajaan-kerajaan agraris di pedalaman yang tidak menaruh perhatian pada perdagangan.
C.  Islam Masuk Istana Raja
            Agama Islam di Kepulauan Indonesia semakin berkembang, setelah dianut oleh penduduk pesisir Indonesia, agama dan kebudayaan Islam semakin berkembang ke hampir seluruh wilayah Indonesia. Perkembangan agama Islam tidak terjadi secara spontan, melainkan melalui suatu proses secara damai, responsif, dan proaktif. Oleh, karena itu, masyarakat Indonesia yang belum menganut Islam mudah tertarik dengan agama dan kebudayaan Islam. Banyak cara yang dilakukan untuk menyebarkan agama dan kebudayaan Islam, baik melalui perdagangan, perkawinan, politik, pendidikan, kesenian.
1.      Melalui Perdagangan, dengan letak geografis yang strategis Kepulauan Indonesia menjadi jalur pelayaran perdagangan dunia, sehingga banyak pedagang Gujarat, Arab, dan Persia yang menjalin hubungan di Kepulauan Indonesia.
2.      Melalui Perkawinan, pedagang Islam biasanya tinggal dalam daerah tertentu dalam waktu yang cukup lama, sehingga banyak pedagang Islam menikah dengan penduduk pribumi.
3.      Melalui Politik, setelah agama Islam diterima oleh kerajaan, akan berdampak pada bergesernya kepercayaan pengikut kerajaan tersebut, sehingga banyak kerajaan-kerajaan yang berkembang dengan kepercayaan dan kebudayaan Islam.
4.      Melalui Kesenian, para penyiar Islam menggunakan wahana kebudayaan sebagai sarana penyebaran Islam di Kepulauan Indonesia.
            Keempat cara diatas merupakan berbagai proses penyebaran agama dan kebudayaan Islam di Kepulauan Indonesia. Penyebaran melalui politik merupakan penyebaran yang bisa dianggap paling berhasil. Dalam hal politik dan kerajaan, raja memiliki peranan besar bagi rakyatnya. Ketika raja memeluk Islam, rakyatnya akan mengikuti karena rakyat memiliki kepatuhan tinggi kepada raja. Hal ini terbukti dengan tumbuh dan berkembangnya berbagai kerajaan yang menganut kepercayaan Islam di seluruh wilayah Kepulauan Indonesia.
            Berikut merupakan kerajaan-kerajaan Islam di Kepulauan Indonesia:
1.      Kerajaan Islam di Sumatra
Sumatra merupakan daerah pertama yang didatangi oleh kaum Muslim, selain itu Sumatra merupakan daerah yang sangat strategis dan berhadapan langsung dengan jalur pelayaran perdagangan dunia. Berdasarkan catatan Tome Pires dalam Suma Oriental dikatakan bahwa disumatra terdapat banyak kerajaan-kerajaan Islam seperti Samudra Pasai, Kesultanan Acer Darussalam, Kerajaan-Kerajaan Islam di Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Sumatra Barat.

2.      Kerajaan Islam di Jawa
Islam masuk ke Jawa melalui pesisir utara Pulau Jawa. Bukti sejarah tentang awal mula kedatangan Islam di Jawa antara lain ialah ditemukannya makam Fatimah Binti Maimun Bin Hibatulloh yang wafat pada tahun 475 H di Desa Leran, Kecamatan Manyar, Gresik. Dilihat dari namanya, diperkirakan Fatimah adalah keturunan Hibatulloh, salah satu dinasti di Persia. Disamping itu, di Gresik juga ditemukan makam Maulana Malik Ibrahim dari Kasian yang meninggal pada tahun 822 H. Agak ke pedalaman, di Mojokerto juga ditemukan ratusan makam Islam kuno. Makam tertua berangka tahun 1374 M. Diperkirakan makam-makam ini ialah makam keluarga istana Majapahit. Berdasarkan informasi ini tentu dapat disimpulkan bahwa Islam itu sudah lama masuk ke Pulau Jawa jauh sebelum bangsa barat menjejakan kaki di pulau ini. Kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa yaitu: Kerajaan Demak, Kerajaan Mataram, Kesultanan Banten, Kesultanan Cirebon.
3.      Kerajaan Islam di Kalimantan
Di Kalimantan juga banyak terdapat kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam, dianaranya adalah Kesultanan Pasir (1516 M), Kesultanan Banjar (1526-1905 M), Kesultanan Kotawaringin, Kerajaan Pagatan (1750), Kesultanan Sambas (1671), Kesultanan Kutai Katanegara, Kesultanan Berau (1400), Kesultanan Sambaliung (1810), Kesultanan Gunung Tabur (1820), Kesultanan Pontianak (1771), Kesultanan Tidung dan Kesultanan Bulungan (1731).
4.      Kerajaan Islam di Sulawesi
Munculnya kerajaan-kerajaan Islam tidak terlepas dari perdagangan yang berlangsung pada masa itu. Contoh dari kerajaan Islam yang berada di Sulawesi adalah Kerajaan Gowa Tallo, Kerajaan Bone, Kerajaan Wajo, Kerajaan Soppeng, dan Kesultanan Buton. Dari sekian banyak kerajaan-kerajaan yang ada di Sulawesi, yang paling terkenal adalah kerajaan Gowa Tallo.
5.      Kerajaan Islam di Maluku Utara
Kepulauan Maluku menduduki posisi penting dalam perdagangan dunia di kawasan timur Nusantara. Mengingat keberadaan darah Maluku ini, maka tidak mengherankan jika sejak abad 15-19 M, kawasan ini menjadi daerah rebutan antara bangsa Spanyol, Portugis, dan Belanda. Sejak awal diketahui bahwa di daerah ini terdapat dua kerajaan besar yang bercorak Islam yaitu Kerajaan Ternate dan Kerjaan Tidore. Kedua kerajaan ini terletak disebelah barat pulau Halmahera, Maluku Utara. Kedua Kerajaan itu pusatnya masing-masing di pulau Ternate dan Tidore, tapi wilayah kekuasaannya mencakup sejumlah pulau di kepulauan Maluku dan Papua. Tanda-tanda awal kehadiran Islam ke daerah Maluku dapat diketahui melalui sumber-sumber berupa naskah-naskah kuno dalam bentuk hikayat seperti Hikayat Hitu, Hikayat Bacan, dan hikayat-hikayat setempat lainnya. Tentu sumber berita asing seperti Cina, Portugis, dan lainnya amat menunjang cerita sejarah daerah Maluku tersebut.
6.      Kerajaan Islam di Papua
Berdasarkan sumber-sumber sejarah menunjukkan bahwa penyebaran Islam di Papua sudah berlangsung sejak lama. Bahkan berdasarkan bukti sejarah terdapat beberapa kerajaan-kerajaan Islam di Papua, diantaranya: Kerajaan Waigeo, Kerajaan Misool, Kerajaan Silawati, Kerajaan Sailolof, Kerajaan Fatagar, Kerajaan Rumbati, Kerajaan Kowiai, Kerajaan Aiduma, Kerajaan Kaimana. Ada beberapa pendapat tentang proses masuknya Islam ke Papua. Pertama, Islam datang ke Papua pada tahun 1630 yang disebarkan oleh mubaligh asal Aceh, Abdul Ghafar. Kedua, pendapat yang menyatakan bahwa Islam disebarkan oleh seorang sufi bernama Syarif Muaz al-Qathan. Ketiga, pendapat yang menyatakan bahwa Islam disebarkan oleh pedagang-pedagang Bugis. Keempat yang menyatakan bahwa Islam di Papua berasal dari Bacan. Dan yang kelima yang menyatakan bahwa Islam di Papua berasal dari Maluku Utara. Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa proses masuknya Islam di Papua dipengaruhi oleh kerajaan-kerajaan Maluku, hal ini juga didukung dengan faktor letak yang strategis, yang merupakan jalur pelayaran perdagangan rempah-rempah.
7.      Kerajaan Islam di Nusa Tenggara
Diperkirakan kehadiran Islam di Nusa Tenggara khususnya di Lombok pada abad ke-16 M yang diperkenalkan oleh Sunan Parapen, putra Sunan Giri. Sedangkan Islam masuk ke Sumbawa diperkirakan datang lewat Sulawesi. Adapun beberapa kerajaan Islam di Nusa Tenggara, diantaranya Kerajaan Lombok, Kerajaan Sumbawa, dan Kerajaan Bima.

D.  Jaringan Keilmuan di Nusantara
            Sejak kerajaan Samudra Pasai mengalami keruntuhan, jaringan keilmuan tetap berlanjut dan kerajaan Samudra Pasai menjadi pusat studi. Ketika kerajaan Malaka masuk Islam, kerajaan Malaka juga menjadi pusat studi bahkan dapat dikatakan berhasil menyainginya. Dan kemajuan ekonomi kerajaan Malaka telah mengundang para ulama untuk berpartisipasi dengan lebih intensif dalam proses pembelajaran Islam.
Keberhasilan Malaka dalam waktu singkat merubah konsepsi dan sikap terhadap agama menyebabkan banyak para ulama besar dari mancanegara datang. Hubungan antar kerajaan misalnya, Samudra Pasai, Aceh Darussalam, dan Malaka sangat bermakna dalam bidang keagamaan dan kebudayaan.
            Di Banten, fungsi istana sebagai lembaga pendidikan sangat mencolok. Bahkan pada abad ke-17 M, Banten sudah menjadi pusat ilmu pengetahuan Islam di Pulau Jawa. Sedangkan di Palembang, banyak Sultan Palembang yang mendorong pengembangan intelektual keagamaan.
            Berkembangnya pendidikan dan pengajaran Islam, telah berhasil menyatukan wilayah Nusantara. Semua ilmu yang diberikan di lembaga pendidikan Islam di Nusantara ditulis dalam Aksara Arab, baik dalam bahasa Arab dan bahasa Melayu. Selanjutnya berkembanglah pendidikan tersebut sampai ke rumah-rumah dan ke tingkat yang lebih luas, pelajaran yang diberikan adalah menghafal al-Qur’an dsb.
E.   Akulturasi dan Perkembangan Budaya Islam
1.      Seni Bangunan
a.       Masjid dan Menara
Seni bangunan Islam yang menonjol adalah masjid, dan masjid sendiri bermakna tempat bersujud. Di Indonesia masjid memiliki ciri-ciri sebagai berikut: Atapnya berupa atap tumpang, tidak ada menara yang berfungsi sebagai tempat mengumandangkan adzan, masjid umumnya didirikan di tempat strategis.
b.      Makam
Pada umumnya, makam yang lokasinya di atas bukit adalah makam yang paling dihormati.
2.      Seni Ukir
Seni Ukir di Indonesia pada zaman perkembangan Islam tidak diperbolehkan, ini mengakibatkan kurang berkembangnya seni ukir di zaman madya. Walaupun begitu, para seniman terus berinovasi dan melahirkan motif-motif seni baru. Contoh seni ukir yang sampai sekarang masih ada adalah seni ukir pada gapura, masjid dll.
3.      Aksara dan Seni Sastra
Perkembangan dan tersebarnya Islam di Kepulauan Indonesia membawa pengaruh terhadap aksara atau tulisan. Disamping pengaruh sastra Islam dan Persia, perkembangan sastra tidak terlepas dari pengaruh budaya sebelumnya, hal ini mengakibatkan terjadinya akulturasi budaya. Dilihat dari corak dan isinya, ada beberaoa jenis seni sastra seperti: Hikayat, Babad, Syair, Suluk.
4.      Kesenian
Di Indonesia, Islam menghasilkan kesenian bernafas Islam yang bertujuan untuk menyebarkan ajaran Islam, misalnya permainan debus, seudati, wayang.
5.      Kalender
Sistem kalender juga mengalami akulturasi budaya antara kebudayaan Pra-Islam dan kebudayaan Islam.

F.      Proses Integrasi Nusantara
Integrasi suatu bangsa adakah hal yang sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan adanya integrasi akan melahirkan satu kekuatan bangsa yang ampuh dan segala persoalan akan dihadapi bersama-sama.
1.      Peranan Para Ulama dalam Proses Integrasi
Islam mengajarkan tentang persamaan dan tidak mengenal kasta-kasta dalam kehidupan masyarakat, hal inilah yang menjadikan dasar bagi para ulama untuk menyatukan berbagai elemen masyarakat yang ada agar menjadi satu bangsa.
2.      Peran Perdagangan Antarpulau
Proses integrasi juga terjadi akibat dari perdagangan dan hubungan antara pedagang dan pembeli dalam waktu yang lama akan menimbulkan suatu pergaulan dan kebudayaan baru yang mendorong terjadinya proses integrasi.
3.      Peran Bahasa
Pada perkembangan agama Islam Bahasa Melayu adalah bahasa yang paling dominan dipakai pada kehidupan sehari-hari. Bahasa merupakan hal yang sangat penting dalam setiap aktivitas yang dilakukan. Dengan begitu banyaknya suku bangsa yang ada di Kepulauan Indonesia akan dibutuhkan satu bahasa yang mampu menyatukan suku bangsa tersebut.

0 komentar :

Posting Komentar